Aroma terapi menjadi sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan manusia, karena aromanya sangat penting bagi kesehatan. Aroma terapi (Aromatheraphy) digunakan sebagai simbol kesehatan, aroma terapi ini dalam dunia pendidikan menjadi sesuatu yang perlu di ujicobakan agar bisa menumbuhkan antusiasme siswa dalam belajar.
Menurut beberapa penelitian, manusia dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan aroma wangi bunga tertentu (Hirsch,1993). Oleh karena itu menyemprotkan aroma tertentu yang biasanya beraasal dari aroma bunga, seperti mint, kemangi, rosemary, jeruk, lavender dan mawar akan memberikan ketenangan dan relaksasi (Lavebre,1990) pada siswa, sehingga konsentrasi belajar akan tetap terjaga dengan baik.
Aroma terapi bekerja dengan cara mempengaruhi kerja otak, saraf-saraf penciuman yang terangsang dengan adanya aroma tertentu, secara langsung berhubungan dengan Hipotalamus. Hipotalamus adalah bagian otak yang mengendalikan sistem kelenjar, mengatur hormon-hormon, dan mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas tubuh lainnya, seperti detak jantung, fungsi pernapasan, pencernaan, suhu tubuh dan rasa lapar. Selain itu saat minyak beraroma dihirup, sel-sel saraf penciuman terangsang dan mempengaruhi kinerja sistem limbik. Sistem limbik ini berhubungan dengan daerah otak yang berkaitan dengan fungsi ingatan, sirkulasi darah, dan sistem kelenjar.
Penggunaan aroma terapi dalam kelas dapat dilakukan disemprotkan ke ruangan. Dengan aroma ini, diharapkan siswa dapat rileks, dan akhirnya bisa berkonsentrasi dengan baik. Untuk relaksasi biasanya digunakan jenis aroma terapi calamus, camomile, carrot seed, cypress, geranium, jasmine, lavender, lime, marigold, rose, rosewood, sandalwood, vanilla, violet leaf, dan ylang-ylang.
Beragam manfaat dapat dipetik dari minyak aroma terapi yang lazim disebut essential oil ini. Jika energi tubuh siswa sedang turun dan ingin kembali bugar, maka ruangan kelas dapat disemprotkan dengan campuran kaffir lime oil, citronella, dan mint oil.

(Sumber Mohammad Sholeh Hamid,S.Pd dalam Bukunya yang berjudul Metode Edutainment)