Oleh Moh.Sholeh Hamid,S.Pd dalam Metode Edutainment
Teori-teori belajar yang bernuansa edutainment banyak dibahas pada berbagai macam literatur, dan beberapa teori yang sesuai dengan konsep edutainment antara lain :
1. Teori pembelajaran aktif.
Teori ini menyatakan bahwa belajar hendaknya melibatkan multiindera dan dilaksanakan dengan menggunakan variasi metode pembelajaran. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan aktivitas belajar, baik dalam mempelajari gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Filosofisnya adalah “belajar dengan mendengarkan akan mudah melupakan, belajar dengan mendengar dan melihat akan ingat sedikit, belajar dengan mendengar, melihat dan berdiskusi akan mulai memahami, belajar dengan mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dna ketrampilan, dan cara terbaik dalam menguasai pelajaran adalah dengan mengajarkan.”
2. Teori belajar akselerasi.
Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran itu harus dirancang agar berlangsung secara tepat, menyenangkan, dan memuaskan. Hal ini memberikan tuntutan kepada guru untuk menggunakan konsep belajar berbasis aktifitas, yakni pembelajaran dengan melibatkan adanya pergerakan fisik secara aktif ketika belajar, memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Ada 4 model belajar yang saling terkait dengan modalitas belajar yaitu ;
a. Somatic : learning by moving and doing.
b. Auditory : learning by talking and hearing.
c. Visual : learning by observing and picturing.
d. Intellectual : learning by problem solving and reflecting.
3. Teori revolusi belajar.
Pada teori ini, lebih menekankan pada suasana yang kondusif, yakni suasana relaks, tidak tegang, dan bebas dari tekanan. Hal ini disebut juga dengan lingkungan belajar bebas resiko. Jadi, suasana belajar yang menyenangkan merupakan kunci utama bagi individu untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dalam proses belajar.
Lain dari pada itu terdapat 6 prinsip kunci yang jika dikelola dan dilakukan dengan baik maka siswa akan dapat belajar lebih cepat, singkat dan mudah. Keenam prinsip itu adalah menciptakan kondisi terbaik untuk belajar, memahami kunci presentasi yang sukses, memaksimalkan kerja memori, mengekpresikan hasil belajar, mempraktikkan, meninjau ulang, mengevaluasi, dan merayakan.
4. Teori belajar quantum.
Teori Quantum berawal dari sebuah teori fisika yang berarti proses perubahan energi menjadi cahaya atau sebuah energi yang berubah menjadi cahaya sehingga memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Demikian halnya dengan proses pembelajaran yang diyakini akan mampu melejitkan prestasi siswa dengan prestasi yang tak terduga sebelumnya. Tentunya dengan menggunakan proses pembelajaran yang tepat dan bermakna.
Penekanan teori ini terdapat pada pencapaian ketenangan dan berfikiran positif sebelum belajar. Atau dengan kata lain perhatian proses pada keterlibatan emosi siswa. Prinsip ini dibangun dari konsep triune, yang menjelaskan bahwa setiap informasi yang memasuki otak menuju ke otak tengah yang berfungsi sebagai pengarah, sehingga jika informasi tersebut diputuskan penting akan dialihkan kepada otak berfikir. Jadi, informasi yang disampaikan pada saat yang menyenangkan (emosi positif), maka seorang dapat belajar dan mengingat dengan baik.
5. Teori belajar kooperatif.
Teori ini berdasar pada konsep pembelajaran yang berdasarkan pada penggunakan kelompok-kelompok kecil siswa, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama untuk memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing melkukan pembelajaran. Dalam suasana kooperatif terdapat saling ketergantungan positif antar siswa untuk mencapai tujuan. Siswa menyadari bahwa ia akan berhasil mencapai tujuan bila rekan siswa yang lain juga berhasil mencapai tujuan. Kerja sama di antara pelajar akan melibatkan keseluruhan daya otak, sehingga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar.
Dengan demikian pembelajaran kooperatif akan terdapat 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu : Saling ketergantungan positif, Tanggung jawab perseorangan, kegiatan tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.
6. Teori Kecerdasan Majemuk.
Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa ada keberagaman kecerdasan otak yang meliputi kecerdasan verbal/linguistik, musikal/ritmis, logis/matematis, visual/spasial, jasmaniah/kinestetik, intrapersonal/interpersonal, dan naturalis. Jadi dengan keberagaman kecerdasan manusia, menuntut guru untuk merancang berbagai aktivitas yang menggabungkan sebanyak mungkin jenis kecerdasan. Dan guru akan membantu siswa dalam mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajarnya, sekaligus memberinya lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan kecerdasan diri mereka.