Hakekat Edutainment

Di awal  pembahasan penulis telah beranggapan bahwa suatu proses pembelajaran adalah sebuah interaksi edukatif, yang mana dalam sebuah interaksi tentunya harus memperhatikan proses penting yang akan menjadikan sebuah interaksi dalam proses pembelajaran menjadi ideal. Proses tersebut adalah Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).

Dengan memperhatikan beberapa proses tersebut, siswa sebagai peserta didik telah dijadikan sebagai subjek dalam proses pembelajaran, dengan kata lain siswa adalah sebuah unsur pokok dan sentral, bukan unsur pendukung dan tambahan. Dan guru sebagai pengajar tidak sepenuhnya mendominasi kegiatan pembelajaran, melainkan membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya melalui kegiatan belajar.

Lain dari pada itu, di dalam proses pembelajaran, yang selalu terdiri dari 3 (tiga) komponen penting yang saling terkait satu sama lain, yaitu materi yang akan diajarkan, proses mengajarkan materi, dan hasil dari proses pembelajaran. Dan dari ketiganya telah membentuk lingkungan pembelajaran. Akan tetapi dalam perjalanan prosesnya, sering didapati kesenjangan dalam pembentukan lingkungan pembelajaran tersebut, terutama pada kuranganya pendekatan yang benar dan efektif dalam menjalankan proses pembelajaran. Sering kali para guru masih terpaku pada materi dan hasil pembelajaran dan juga disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai, menyusun materi apa saja yang hendak diajarkan, dan merancang alat evaluasi. Sedangkan hampir tak pernah memikirkan bagaimana mendesain proses pembelajaran secara baik agar bisa menjembatani antara materi dan hasil pembelajaran.

Seperti yang telah diungkapkan Eric Jensen, mennyatakan tiga unsur utama yang mempengaruhi proses belajar adalah keadaan, strategi, dan isi. Jadi, menciptakan suasana yang tepat untuk belajar, dengan menggunakan gaya atau metode presentasi yang baik, serta topik yang dibawa haruslah sesuai dengan kebutuhan. Banyak proses pembelajaran yang menaruh perhatian baik terhadap usur kedua dan ketiga, akan tetapi mengacuhkan unsur pertamanya yang justru akan menjadi pintu utama pada proses belajar itu sendiri. Dan belajar hanya akan efektif jika suasana (suasana hati peserta didik) berada dalam kondisi yang menyenangkan.

Munculnya konsep edutainment, yang mengupayakan proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, telah membuat suatu asumsi bahwa : pertama, perasaan positif (senang/gembira) akan mempercepat pembelajaran, kedua, jika seorang mampu menggunakan potensi nalar dan emosi secara jitu, maka ia akan membuat loncatan prestasi belajar yang tidak terduga sebelumnya, ketiga, bila setiap pembelajar dpat dimotivasi secara tepat dan diajar dengan cara yang benar, cara yang menghargai gaya belajar dan modalitas mereka, mereka semua akan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.